Maya Dilikini dan Pardidu
Oleh : Indra Talip
***
***
![]() |
| Foto Indra Talip |
Ia
hidup di dunia supra-relitas dan supra urban, dunia hayper namanya. Di ruang
kemayaan ini, Ia bagai Dilikini. Dilikini dalam bahasa lokal, tobelo. Berarti
arwah. Tak heran, jika orang menyebutnya Maya Dilikini. Orang tanah, biasa
memanggilnya dengan sebutan Maya. Tapi di ruang supra-realitas, orang menyebutnya
Dilikini, arwah yang gentayangan. Maya Dilikini, sering mengujungi beranda di
semua ruang dan waktu, Maya Dilikini, sudah menjadi adi-manusiawi, terbebas
dari sekat-sekat ruang. Maya Dilikini meruang dan mewaktu. Tidak ada yang
abadi, kecuali waktu. Dia sendiri sendiri adalah waktu.
Pardidu,
adalah lelaki, yang menghabiskan umurnya dengan Khayalan. Karena itu, ia sering
kesepian. Satu-satunya hiburan untuk dirinya adalah dengan buaian mimpi.
berhari-hari Pardidu bekerja merumuskan hayalan. Sambil senyum sendiri, ia
bayangkan, gadis perawan, dengan rambut tergerai basah, di bawah purnama,
datang mengencanginya di malam yang riuh. Pardidu sangat suka pinang perempuan,
apalagi gadis, perawan pula. Pardidu pernah menuding bayangannya sendiri, di
depan cermin. “kamu adalah absurditas dan keterasingan dari kebudayaan
orang-orang Tanah”.
Di
dunia kemayaan yang supra realitas dan supra urban. Orang-orang malangsungkan
migrasi sesuka hati, tanpa tanda pengenal. Orang-orang lalu lalang, bertemu dan
tidur di dasar laut. Kelangit-langit sambil bawa kasur, nyebur khayal. seorang
Kakek, usia senja, menyulap dirinya jadi anak muda, yang baru saja mengalami
“mimpi basah”. Maya Dililikini, suatu ketika, kala gerimi, ia menyapa Kakek tua
itu, “Hai Kek, sisahkan kopimu, untuk tuangkan kedalam kosongku”. Kakek paru
baya, rada genit menyahut, “bisa, asalkan ada cangkir, untuk kutuangkan bibit
kopiku”.. ah, gombal. menurut keterangan orang tanah, kakek itu, diprediksi,
umurnya tinggal sehari. Dasar orang tua pembual.
***
Maya
Dilikini dan Pardidu, bertemu dalam sebarisan sajak selokan yang lapar,
“diantara remang dan musik, saya mendaki dua bulan kembaran yang curam,
sesekali kunjungi merah bibir pantaimu, lalu mengembara ke belantara,
hutan-hutan tubuhmu, menemukan telaga. Anak-anak puisi kita berasal”.
Cinta
Dilikini dan Pardidu tumbuh di jantung aksara yang pecah, juga meluruh. Semacam
libido. Dalam kebudayaan orang tanah, mereka tidak menemukannya sebebas dunia
kemayaan ini. Mitos dari ibuisme kultural, terlalu mengekang. Disini, ruang
kemayaan, mitos justru sangat nyata.
“Pardidu,
apakah kau sudah ambil bunga kamboja, yang aku pesan di pasar kuburan, mendung
kemarin”. Sambil memelas, Pardidu jawab tenang, “ah, mayat-mayat minta,
bayarannya nyawa Dilikini.” Ia diam sejenak, sambil mondar-mandir di sudut
kamar yang remang, Pardidu mengumur kata “bukankah kita adalah arwah, nyawa
yang bergentanyangan. Bukan begitu Dilikini..?” bukan Pardidu. Dilikini
menyangkal. “ agar kau tahu. Ini dunia,
dengan satu kedipan mata, kamu bisa berada di semua tempat. Kan ada ATM, tanpa
harus bertemu muka, kamu bisa bayar bunga kamboja itu.” meskipun terdengar
horor, Pardidu mengamininya. Masuk akal. Tapi tiba-tiba, pikiran ngaurnya
muncul lagi “bertemu orang lain, atau dengan diri sendiri”.
***
Rapat
siang, hujan melebat tiba-tiba, Pardidu memayangkan lagi, Dilikini muncul di pintu kamar. Alngkah tentramnya
subuh yang basah, teduh batin dari segala sunyi. Apa kabar..? apa kau sudah
baca surat-suratku yang karam di ingatan..? atau, kau sudah gandeng wanita
lain, memacarinya, lalu bersetubuh di langit-langit khayalan? tiba-tiba
Dilikini menghilang di ingatan Pardidu. Ah.. sudah siang, ternyata.
Pardidu,
lantas menulis surat untuk Dilikini;
Anggap
saja bukan surat, tapi diriku datang berbicara, memintamu menyeduh kopi merapi.
Cinta hanya sesederhana itu. Temani aku ngobrol tentang anak kita yang bernama
“puisi, sambil menertawainya.
Setelah
kau tahu segala ikhwal tentang diriku, aku akan ajari kamu cara menertawai
hidup. Karena aku percaya. Begitu mudahnya perasaan datang dan pergi tanpa
permisi. Ajaran aku ini, suatu saat nanti akan kamu mengerti.
Bila
perasaan pergi, kamu bisa menerimanya dengan tertawa.
Sebab
air mata, hanyalah lelucon omong kosong.
Secepat
kilat, baru berselang detik. Dilikini memalas surat Pardidu, dengan setempel,
biji kopi dari merapi.
Malam
ini, aku menghabiskan waktu di puncak Sibela, bersama hujan yang lebat. Entah
kenapa, hujan tiba-tiba begitu akrab menemani saya, ketika dingin sesak di
selimut. Sesekali, ia panggil saya ke jendela yang rabun dalam desau angin yang
kencang. Mengajak saya memandang bayangan saya sendiri. Saya menemukan diri
saya begitu begitu tidak utuh. Pecah dan luruh.
Sambil
lalu, aku mengigat dirimu, memayangi, seperti melihat diri sendiri di jendela kaca
yang rabun itu. Pecah dan meluruh. Maaf sayang, aku tidak bisa mengingatnya.
***
Mereka
larut dalam percakapan dua arwah yang sama gelisah, saling berkirim surat dan
puisi, dari sekadar bertukar kabar, juga merumuskan dan menawarkan masa depan
yang saling mencemaskan. Kita yang sedang mengapung dintara dua dunia, sering
mengakali akrab dengan menuding. Ah. Sok akrab. “saya lelaki virtual, yang
diproduksi imajinasimu sendiri. Bagaimana saya dihadirkan? Bagimanakah proses
penggalian atas diri saya, dari keinginan-keinginan yang bersumber dari otakmu
sendiri.? Saya yang kamu tahu adalah hasil abstraksi dari proses perjumpaan
kita diruang maya. Berkenalan, menanyakan kabar, saling tukar informasi diri,
dan humor selalu mentaktisi keadaan yang kira-kira disebut kamuflase”
Begitu
kan Dilikini...? mendengarnya, Dilikin
Diam agak lama, “ternyata kita sama-sama pendusta, jauh di palung hati,
kitakita berharap dapat bertemu di teras rumah yang sama derasnya hujan”. Dusta kita yang utama adalah “Absurditas dan
keterasaingan.” Kita hidup terlalu persis sama dengan Tuhan. Imposible.

Leave a Comment