Beta Pulang, Pulang Pada Spirit Nuku
![]() |
| Pengukuhan Pengurus Besar Garda Nuku di Pelataran Kedaton Tidore | Jalamalut.com | Foto: Faris Bobero |
Belakangan ini hastage “Nuku Pangge Pulang” berhasil
menghiasi halaman Media sosial (Facebook, Istragram, BBM, Wahshap App,
Twiter dll). hastage tersebut, disambut antusias warga bumi di ruang maya,
“Beta Pulang”. hastage “Nuku Pangge
pulang” dan “Beta Pulang” adalah upaya menterjemahkan, sekaligus
mentansformasikan spirit Nuku ke dalam konteks
kekinian, dan yang akan datang.
Makna terdalam dari pulang adalah kembali pada
spirit kejuangan Nuku. Pulang pada Spirit historis-kultural. Pulang pada akar
kebudayaan, dan akar filsafat Moloku Kie Raha. Tak ayal jika Perayaan Haul Nuku
yang digelar oleh Garda Nuku (Generasi Muda Nuku) di Dhuafa Center, Kota Ternate (14/11). Selain pelantikan Pengurus Besar Garda
Nuku, juga disertai dengan Penandatanganan Agrement Persekutuan Moloku Kie
Raha, dan Ratib (taji besi) massal.
Agrement Persekutuan Moloku Kie Raha yang digagas oleh Garda Nuku adalah
penanda penting bagi ingatan masa lalu. Setidaknya mengingatkan kita pada
periode terpenting era-1322 di Maluku Kie Raha. Dunia Maluku (Ternate, Tidore,
Batjcan, dan Jailolo) dengan segala dinamika kosmopolitanisme masa lalunya
telah melatakkan dasar hidup bersama yang dituangkan ke dalam kesepakatan Tarktat
Moti (Motir Staten Verbond). Jika
kita melacaknya secara geneologi. Saya menduga, ide dasar yang melatarbelakangi
Agrement Persekutuan Moloku Kie raha berangkat, dan berakar urat dari Motir Sataten Verbond 1322.
Matinya sebuah kebudayaan, ditandai dengan matinya imajinasi. Tanpa
imajinasi, dunia, dan kehidupan manusia menjadi gelap-gulita. Adalah Garda
Nuku- satu lapis generasi pelanjut spirit Nuku dengan kompleksitas generasi dan
zamannya, berupaya menghidupi kembali kosmopolitanisme masa lalu Moloku Kie
Raha yang mendunia. Generasi ini, jika tidak berlebihan, saya menyebutnya
“generasi pelintas batas”. Karena mereka telah berani mengusung visi masa depan
bersama, dan merajutnya sedemikian imajinatif. Komunitas imajiner kata Benedict
Anderson, selalu membayangkan masa lalu yang tak terlupakan dan meluncurkan
masa depan tak terbatas. Kebangsaan, maupun nasionalisme merupakan produk
kebudayaan yang khusus. Untuk bisa memahami keduanya secara baik, kita harus
memperhatikan dengan seksama bagaimana mereka menemukan wujud sejarahnya,
bagaimana mereka berubah sepanjang zaman, dan mengapa kini mempunyai keabsahan
nasional yang mendalam (Benedict Anderson: 1992).
![]() |
| Taji besi (dabus massal). foto: Edo Huka |
Hanya dalam konteks imajinasi, frasa “Pulang” yang didengung, Garda Nuku menemukan arti yang sebenarnya. Pulang untuk menggali, dan
mencari kearifan masa lalu, kemudian menemukan masa depan bersama. Masa depan
bersama tersebut dirumuskan ke dalam Agrement Persekutuan Moloku Kie Raha.
Dada saya sempat terasa sesak, ketika menyaksikan pendatanganan Agrement
Persekutuan Moloku Kie Raha. Hanya di hadiri Kesultanan Tidore, Kesultanan
Jailolo, Pemerintah Kota Ternate, dan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan. Adalah cermin, Imajinasi belum mendapat tempatnya di Rumah besar kita,
Maluku Utara.
Namun saya sudah melupakannya, dan meluapkan kegembiraan dengan ikut
menari dalam pekik rebana
bersahutan merdu dengan salawat nabi, dan doa para leluhur, sambil menikam besi ke dada sepenuh
tenaga.
Di sanubari, saya bisik sangat pelan “Beta Pulang”.
Penulis
: Indra Talip


Leave a Comment