Di Balik Secangkir Kopi Rempah
| Kopi Dabe (Kopi Rempah dari Tidore) |
Senja
beranjak
turun. Wangi rempah; cengkih (Syzygium
aromaticum), pala (Myristica-
fragrans), dan kayu manis berpadu dalam secangkir kopi. Saya teguk sembari
menikmati aromah rempah.
Selasa,
22 November 2016 di selasar Janglaha Rumah Printing milik Budi Janglaha, yang
juga menjadi tempat ngopi sambil diskusi.
Seketika
suasana berubah getir. wangi rempah semakin merasuk ke sum-sum otak-menerawang
masa lalu ketika Abdullah Dahlan memantik cerita kejuangan orang-orang terdahulu
melawan kolonialisme. Kita sadari, dua jenis rempah ini tidak hanya menjadi
bagian kecil deretan bumbu dapur. Jauh dari itu, pala dan cengkih telah
mewarnai jalan sejarah Nusantara bahkan dunia. Keduanya (cengkih dan pala)
menjadi pencetus kolonialisme modern di tahap yang paling awal.
Aromah
rempah ini, pada abad ke-16 mendatangkan bangsa
Portugis, Spayol, Inggris, dan Belanda ke Nusantara. Christophel
Columbus bahkan terdorong menjelajahi separuh dunia untuk berburu rempah hingga
akhirnya tersasar ke benua Amerika yang dikiranya Hindia tempat asal bumbu (el picante).
Hingga
abad pertengahan, cengkih dan pala menjadi rempah yang paling diburu karena
harganya lebih tinggi dibandingkan emas. Cengkih dan pala saat itu digunakan
sebagai penyedap aneka masakan, wewangian, kosmetik, obat-obatan berbagai jenis
penyakit, hingga ramuan perangsang birahi. (Jack Turner, Sejarah Rempah).
Bangsa Portugis, Spayol, Inggris, dan Belanda saling
berebut ingin menguasai jalur rempah. Monopoli perdagangan memuncak. Wangi
rempah pun berbuah petaka
di kepulauan rempah Maluku ( Ternate, Tidore, Moti, dan Bacan). Perebutan penguasaan
ini karena rempah-rempah saat itu menjadi komoditi penting dalam pasar
internasional.
Kolonial
tidak hanya merampas sumber daya alam di negeri rempah, namun lebih dari itu
telah menguasai cara berpikir kita dengan “mengaburkan sejarah” bahkan
membangun mitos-mitos di tengah kehidupan orang-orang Maluku. Riwayat kelahiran
kerajaan-kerajaan di Maluku tidak terlepas dari mitos yang dibangun mirip
dengan legenda yang ada di Pulau Jawa seperti legenda Jaka Tarub di Jawa Timur.
Saat
ini, tak sedikit dari kita yang memahami nama Maluku hanya sebatas wilayah
administratif; Maluku itu Ambon. Padahal, dalam buku Kepulauan Rempah-rempah
yang ditulis M Adnan Amal menyebutkan, asal-muasal nama Maluku ketika peradaban
China, dalam hikayat Dinasti Tang (618-906),
Kawasan ini bernama “Mi-li-ki” yang diperkirakan sebagai sebutan untuk
Maluku. Penulis China dari zaman Dinasti Tang yang menyebutnya sebagai
“Mi-li-ku”. Lalu, pada masa kemudian, barulah diketahui bahwa yang dimaksud
dengan Mi-li-ku adalah gugusan pulau-pulau Ternate, Tidore, Makian, Bacan, dan
Moti.
Tentu,
dalam sejarah panjang Moloku Kie Raha tidak terlepas dari kisah heroik
perlawanan rakyat terhadap kolonial bahkan sejarah miris bagaimana kita diadu
domba oleh penjajah.
Beberapa
sumber mengemukakan peradaban di negeri rempah ini lebih jauh lagi. Hendry N.
Ridley (1912) mengemukakan bahwa, cengkih sudah ditemukan bangsa China sejak
220 sebelum Masehi. Ia pun beragumen bahwa bangsa China yang pertama kali
menemukan cengkih di kepulauan Maluku. Jejak cengkeh juga sudah ada jauh
sebelum abad pertama Masehi. Hal ini dapat dibaca pada catatan magnum opus-nya
Herodotus, The Histories.
Dalam
dokumen-dokumen Portugis dan Spanyol, menyebut Maluku sebagai Negeri Asal rempah
yang dinamakan “Batu China de Moro” sebagai penanda kepulauan milik orang
China.
Sejarah
panjang dari berbagai sumber yang ada pun mengajak kita memahami Ternate tidak
hanya pada batas administrasi, pulau yang kelilingnya hanya 42 kilometer dan
laut sebagai pembatas. Lebih dari itu, kita harus memahami sejarah panjang.
Bahkan, hubungan antara pulau-pulau yang ada. ABD Rahman Hamid dalam bukunya
Sejarah Maritim Indonesia mengatakan, laut Maluku yang berhadapan dengan
kepulauan Philipina serta dekat dengan Mindanau dan Kepulauan Sulu,
menghubungkan beberapa pulau rempah-rempah seperti Banda, Ambon, Seram,
Ternate, dan Tidore.
Mengenal Ternate, Mozaik Kota Pusaka
Masih
dengan secangkir kopi. Kali ini, tepatnya di Garasi Genta, 17:10 – 17:30 WIT.
Minggu 20 November 2016. Sambil menikmati kopi, saya berbincang dengan Bang
Sof, sapaan M Sofyan Daud, penulis buku “Ternate, Mozaik Kota Pusaka”. Alhasil,
saya mengenal Ternate langsung dari penulis buku tentang Ternate.
Adnan Amal (2010: 53) menulis, pada 1250
terjadi eksodus besar-besaran orang-orang Halmahera—di bawah kerajaan Jailolo-
ke beberapa pulau di bagian barat, pulau tersebut seperti pulau Ternate,
Tidore, Moti dan, Makian.
Di Ternate pun lahir komunitas yang disebut
Adnan Amal sebagai komunitas tertua yang berkedudukan di Tobona yang dikepalai
seorang Momole bernama Guna.
Peristiwa ini ditandai sebagai pra kolano (raja). Seiring waktu, para imigran
dari Halmahera bertambah dan membangun pemukiman di Foramadiahi sekitar
tahun 1254 kemudian dipimpin Mole Matiti lalu terbentuk pula pemukiman ke
tiga yakni Sampala yang dikepalai Momole Ciko. Hingga pada 1257 terbentuklah
kerajaan yang ditandai dengan pengangkatan Kolano (Raja) Ternate.
Periode Momole ini, menurut M. Saleh Putuhena,
“baru merupakan kesatuan budaya, bukan merupakan kesatuan politik”. Ternate
sebagai kesatuan politik, terbentuk pada periode kolano, ketika empat klan
telah terintegrasi ke dalam suatu pemerintahan yang baik. (Sofyan Daud. 2012:
13).
Di sisi lain, dalam perbincangan saya dengan
bang Sofyan Daud, ia mengatakan, banyak sumber yang mengungkapkan tentang
Ternate. Pada 1227 eksodus masyarakat dari Jailolo ke Ternate. Separuh sumber
bahkan menyebutkan, eksodus dari
kerajaan Loloda.
Sofyan
mengatakan, banyak orang menelusuri Sejarah Ternate merujuk pada Naidah,
seorang dari Klan Jiko (1859-1864) yang menjabat sebagai Hukum Soasio. Naidah
menulis tentang “Hikayat Ternate”. Dalam bahasa Ternate dengan terjemahan
bahasa Melayu kemudian diterjemahkan ke Bahasa Belanda yang merujuk pada
terjemahan Melayu. Catatan Naidah bahkan diterjemahkan oleh P Van der Crab,
Residen Ternate (1863-1864). Terjemahan Crab itu diterbitkan pada 1878 dalam “Bridragen tot de Taal, Land en Volkenkunde
van Nederlandsch Indie (BKI)”. Menurut Dr. Chris van Fraasen yang pernah
meneliti naskah ini di Ternate dengan bantuan Abdul Habib Jiko, terjemahan yang
ada banyak menyimpang dari naskah aslinya.
Dalam
Buku Ternate Mozaik Kota Pusaka, Sofyan mengutip; Sejarah Maluku sebelum
kedatangan Portugis adalah sejarah yang ‘diterka’ atau rekaan saja, karena
memang tidak ada catatan sejarah dan peninggalan-peninggalan arkeologis
penting” (Alwi,2005;294). Kemudian istilah Maluku sendiri pun memiliki
pengertian yang berbeda-beda dari masa ke masa.
“Jangan mengenal Ternate sekena saja pada masa
terbentuknya kerajaan. Jika merujuk pada sejarah cengkih, peradaban kita jauh
lebih tua, ribuan tahun sebelum Masehi. ” saran Bang Sof, sapaan akrap Sofyan
Daud.
Tanggung jawab Sejarawan
Merujuk
pada beberapa sumber yang ada, sejarah Ternate begitu singkat hanya pada era
1200-an, dengan hanya melacak pada peristiwa eksodus orang-orang Halmahera.
Bagi sofyan Daud, jika dilihat dari sejarah cengkih, maka, kehidupan dan
penduduk yang ada di Pulau Ternate lebih
jauh dari tahun 1200-an.
“Kiranya,
hal ini menjadi tanggungjawab dalam hal melacak lebih jauh tentang sejarah
Ternate. Pertanyan mendasarnya adalah, siapa yang membawa cengkih sejauh itu
pada era sebelum masehi?” ujar Sofyan.
Kesepakaatan Hari Jadi
Kota Ternate
Peristiwa
penting 13 tahun lalu. Tepatnya di sebuah ruang Kantor Walikota Ternate, 8 Juli
2003. Ruang itu penuh sesak dihadiri kurang lebih 148 Orang, dari tokoh
masyarakat, tokoh adat, instansi pemerintah, akademisi, rekan pers, LSM, dan mahasiswa.
Di antara Mereka adalah orang-orang yang tegabung dalam Tim Perumus Hari Lahir Kota
Ternate yang dibentuk berdasarkan Keputusan Walikota Ternate nomor 105/8/Kota
Ternate.
Saat
itu, Prof. DR. RZ. Leirissa selaku Ketua Tim Perumus Hari Lahir Kota Ternate,
dan tim perumus lainnya yakni; Prof. DR. A.B. Lapian, DR. M.S. Putuhena, MA, Drs.
H. Mudaffar Sjah, M Adnan Amal, SH, Drs. H. J. Abdulrahman, Drs. Rivai Umar,
M.Si, Drs. J.W. Siokona, Dra. Irza A. K. Djafar, DR. Gufran Ibrahim, MS, Herry
Nachrawi, Drs. B. Marassabessy, M.Pd,
Dra. R. A. LatIef, M. Hum, H. Hamid Kotambunan, Drs. Ishak Jamaluddin,
dan Rinto. Taib, S.Sos.
Perlu
diketahui, penetapan Hari Lahir Kota Ternate, tanggal dan tahun merujuk pada
peristiwa yang berbeda. Penetapan tanggal 29 Desember diambil dari peristiwa
Sultan Babullah mengusir Portugis dari tanah Maluku di Benteng Gamlamo
(Sekarang Benteng Kastela, nama lain dari Nostra Senora del Rosario).
Perlawanan Babullah ini setelah ayahnya, Sultan Khairun terbunuh ditangan penjajah, di Benteng Kastela pada tanggal 15
Februari 1570. Perlu diingat, dalam peristiwa perlawanan Babullah mengusir
Portugis sempat menunda kolonialisme di Nusantara selama 100 tahun.
HJT 766 dan Semangat Kebudayaan
![]() |
| Logo HJT 766 dan Pers Peliputan Kota |
Hari
Jadi Ternate (HTJ) 766 tahun 2016 ini mengambil spirit kebudayaan. Panitia HJT
766 mengemasnya dengan tema bertajuk “Ternate Kota Pusaka dan Wisata.
Menghargai Masa Lalu, Membangun Masa Depan yang Mendunia”. Semangat ini pun
dijadikan sebagai visi misi Kota Ternate dan menjadikan tema utama dala HJT di
tahun-tahun yang akan datang.
Kiranya,
banyak hal positif dalam HTJ 766. Kenapa tidak, selain dengan semangat
kebudayaan, pihak pemerintah pun membangun sinergi dengan Kota Tidore Kepualan
dan Halmahera Barat. Hal ini bahkan telah disepakati dalam Rencana Pembangnan
Jangakah Menengah Daerah.
Walikota
Ternate Burhan Abdurahman dalam konferensi Pers saat Pembukaan HJT 766 di
Benteng Oranje mengatakan, dalam kesepakatan segi tiga emas tersebut, mereka
(Ternate, Tidore, dan Halbar) saling mendukung di bidang Pariwisata, Pertanian,
dan Perikanan.
“Selama
ini, hasil pertanian diambil dari Manado dan Bitung. Target kita dalam beberapa
tahun ke depan Maluku Utara, khususnya di tiga daerah ini memiliki ketahanan
pangan yang kuat. kita akan bekerja keras hingga hasil produk pertanian yang
ada di sini di komsumsi di dalam daerah dan tidak ketergantuan lagi dari luar
daerah,” Ungkap Walikota Ternate Burhan Abdurahman.
Tak
hanya itu, dalam momen HJT 766 ini, tiga daerah tersebut pun saling mendukung
dalam rangkayan acara pelaksanaan HJT 766.
Mama Piara dan Modal Sosial
“Ayhs,
pulang makan dolo [dulu], abis [setelah itu] baru kerja” kata ibu
piara saya. Ibu Piara yang saya temui di Ternate, Pulau Hiri, Pulau Moti, dan
beberapa ibu piara di daratan Halmahera. Kenapa membekas? Karena tidak hanya
ucap namun wujud kata berupa perlakuan seorang ibu piara terhadap saya.
Perlakuan
seorang ibu piara ini pun membekas di ingatan seorang TNI Sipur asal Jawa yang
saya temui di Asmat, Papua. Saya lupa namanya. Sebelumnya, Ia berkenalan dengan
saya, dan saya mengatakan bahwa saya dari Maluku Utara. Seketika itu, wajah
garangnya berubah. Ia kaget bahkan haru. Matanya basah. “Ade, saya ingat mama
piara di sana, di Galela. Mama piara itu selalu jaga saya punya waktu makan,”
katanya, mengingat. Ia bahkan meniru dialek Maluku Utara.
“Mama
piara, bahkan orang di dalam rumah, tidak makan kalau saya belum pulang makan
meskipun makanan sudah tersaji di meja,” air matanya pun menetes.
Atas
peristiwa itu, saya pun mengenang masa kecil saya, kehudupan sosial di kampung,
di Tobelo. Saat itu, tahun 80-90-an, di kampung saya, orang-rang hidup rukun
dengan perbedaan agama bahkan etnis. Setiap hari besar keagamaan seperti Idul
Fitri dan Idul Adah, saudara, tetangga yang beragama Kristen berdatangan,
menikmati hidangan perayaan. Begitu pula sebaliknya, pada hari raya Natal, kami
selalu berkunjung ke tetangga yang beragama Kristen. Kami pun saling menjaga
makanan. Tetangga kami yang Kristen, menyimpan alat-alat dapur bahkan piring
dan gelas untuk kita yang Muslim gunakan.
Pintu
rumah kami tidak pernah dikunci, meskipun kami tidak ada di rumah. Tetangga
dapat leluasa masuk nonton tv dan makan seadanya. Tentu ada semacam sistem
nilai di dalam rumah. Misalnya, pintu kamar orangtua saya, tidak pernah dibuka
bahkan disentuh oleh tetangga.
Bagi
kami, tamu yang masuk ke rumah hingga mampir ke dapur untuk makan, tamu itu
telah menjadi bagian dari keluarga kami.
Tentu
dinamika dan sistem yang terbangun tidak terlebas dari aspek kebudayan kita
yang ada di Maluku Utara. ada beberapa pesan, misalnya “Mari Moi Ngone Futur” yang artinya Mari Kita bersatu.
Selain
itu, sistem nilai yang masih hidup di tengah masyarakat adalah Babari. Babari ini bentunya seperti
gotongrayong. Orang-orang di Maluku Utara saling membantu dalam berbagai hal,
misalnya, ada warga yang kesulitan membangun rumah, warga lain
berbondong-bondong membantu bahkan menyediakan bahan-bahan bangunan.
Di
Ternate, ada sistem nilai yang berupa sastra lisan. Syair dari sastra ini
menjadi tuntunan tiap individu berlaku baik terhadap sesama untuk kebaikan
bersama. Sastra lisan itu disebut Dalil Moro.
Ada juga yang disebut Dalil Tifa.
Abdulrahman,
Abdul Hamid Hasan (2001;93) menulis, Dalil
Moro adalah bentuk sastra lama yang dalam peribahasanya mengungkapkan
perumpamaan berbentuk dalil sebagai contoh untuk ditiru atau dihayati.
Singkatnya, di Maluku Utara khususnya Kota Ternate, sistem nilai ini masih hidup di tengah kehidupan masyarakat.
Singkatnya, di Maluku Utara khususnya Kota Ternate, sistem nilai ini masih hidup di tengah kehidupan masyarakat.
Merujuk
pada sejarah, Menurut Sofyan Daud, ketika Raja Ternate ke-7 Sida Arif Malamo
berinisiatif mengadakan pertemuan raja-raja
dalam persekutuan Moti (Motir Verbond).
Hal tersebut dilakukan karena saat itu, cengkih dan pala menjadi rebutan dalam
monopoli perdagangan.
“Persekutuan
itu, yang pertama adalah untuk menjaga daerah dari ancaman perompak, kedua,
untuk menjaga stabilitas hubungan antar kerajaan,” kata Sofyan.
Kondisi sosial dan kemajemukan kian memuncak
saat itu. Menurut Sofyan, hal itu harus diimbangi dengan sistem nilai yang
dibangun secara bersama.
Saat ini, perubahan jaman semakin cepat
bahkan berdampak pada kehidupan sosial budaya yang ada di Kota Ternate. Menurut
Sofyan, semangat Moti Verbond perlu dimplementasi lewat kebijakan pemerintahan.
“Sudah seharusnya, kita kembali pada nilai
falsafah yang telah ada sebelumnya. Hal itu menjadi modal sosial membangun masa
depan,”ujar Sofyan.
Penutup; Menikmati Ternate
Ah,
kopi sudah habis saya teguk. Nikmatnya masih terasa, sekaligus rasa pahitnya
masih membekas. Seperti sejarah kita. Ya seperti sejarah kita.
Demikian
catatan pendek ini saya tulis. Namun tak dipungkiri, catatan ini masih jauh
dari layak sebab, saya sendiri bukan sejarawan. Saya memposisikan diri sebagai
orang muda daerah yang selalu ingin tetap kritis mempelajari sejarah daerah
sendiri. Saya pun memposisikan diri sebagai bagian dari “bangsa terjajah” yang
mencoba belajar-menelusuri kembali jejak-jejak kita di masa silam.
Tentu,
masih banyak sumber-sumber lain tentang Sejarah Maluku yang jauh lebih tua.
Sejarah itu masih dituturkan para tetua bahkan akademisi. Mislanya soal
penamaan Maluku, ada yang menyebutnya Jazirah Almulk. Beberapa kawan dari pulau
Jawa yang melancong ke Ternate pun bercerita bahwa, peradaban di Kota Ternate
jauh lebih tua, bahkan (konon) di Jaman Nabi Nuh yang bahteranya terdapat
Cengkih.
Oh
iya, bagi saya, tak elok catatan ini jika tidak dimuat beberapa dokumentasi
berupa foto. Olehnya itu, saya mencoba menjadikan catatan pendek ini lebih bervariasi;
menjadikannya “panduan pemula” wisata sejarah, bagi saya bahkan bagi pengunjung
“pemula” yang ingin ke Ternate.
Pastinya,
tidak tertutup kemungkinan, mereka yang sudah berkali-kali datang ke Ternate belum
tentu “menikmati Ternate” secara utuh, apalagi orang yang belum pernah
mengunjungi Ternate. Pasalnya, ketidaktahuan mengenai hal-hal “kecil” di
Ternate kerap menyulitkan orang-orang yang baru pertama kali.
Makam
Sultan Babullah
Makam Sultan Babullah bereda di Bukit
Faramadiahi. Kurang lebih berjarak 10 kilometer kearah selatan dari Pusat Kota
Ternate. Sultan Babullah adalah anak dari Sultan Khairun. Sultan Babullah
berhasil mengusir Portugis yang bercokol di Benteng Kastela. Perlawanannya
berhasil menunda kolonialisme di Nusantara selama 100 tahun. Tak sedikit
orang-orang dari luar yang datang ke Ternate pun melakukan jiarah di Makam
Sultan Babullah.
Benteng
Kastela
| Kondisi Benteng Kastela |
Benteng Kastela, begitu masyarakat lokal
menyebut salah satu situs benteng terbesar dalam sejarah kolinialisme di Asia
Tenggara. Benteng yang dibangun oleh Portugis ini terletak di selatan Kota
Ternate. Kata Kastela sendiri merujuk pada kata Castel atau Castillo yang
artinya istana atau benteng.
Pada tahun 1521, ketika Antonio de
Brito menjadi gubernur Portugis di Maluku, Ia kemudian ditugaskan membangun
benteng ini pertama kali. Antonio de Brito pun menghadap Nyai Cili Boki Raja
Nukila, yang saat itu menjadi Waliraja, atas anaknya yang masih belia,
Jalaludin Diyal yang dikenal dengan nama Sultan Deyalo.
Setelah Bayanullah wafat (Suami Boki
Raja Nukila), Brito berhasil membujuk Boki Raja Nukila untuk membangun benteng
pada 24 Juli 1522 di wilayah yang bernama Sampalu atau Malayu. Pada Tahun
1540, seluruh pembangunan benteng selesai dibangun dan diberinama Santo Pedro,
kemudian dikenal dengan nama Nostra Senora del Rosario, atau Gadis Berkalung
Bunga.
Rusli Jalil, dalam weblog pribadinya berjudul “Castellia Nostra Senora del Rosario” menulis Soal nama ini ada dua versi cerita. Pertama, karena keindahan benteng yang lebih menyerupai benteng kota ini, hingga penguasa Portugis menamai demikian. Versi kedua menyebutkan, nama ini diberikan karena di situ juga bermukim seorang gadis yang senang sekali berkalung bunga.
Benteng Tolluco
![]() |
| Benteng Tolluco |
Benteng Tolluco berada di Kelurahan Dufa-dufa, Utara Kota Ternate. Berjarak kurang lebih 3,5 kilometer dari Badara Sultan Babullah. Awalmulanya, benteng ini didirikan oleh Portugis oleh Francisco Serao pada 1512. Pada 1610, benteng ini kemudian direnovasi oleh Pieter Boath yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Belanda di Ternate. Benteng itu pun dikenal dengan nama Benteeng Holandia atau Santo Lucas.
Dalam Buku Ternate Mozaik Kota Pusaka yang ditulis M Sofyan Daud; Di sisi dinding benteng tersebut terdapat prasasti tulisan “Die Hirby Staet. En Gade Slaet, Muyr en wan, seisen in, is spot_Pieter Both” prasasti itu telah dicopot saat pemugaran benteng pada tahun 1996. Pada Tahun 1661 Pemerintah tinggi Hindia Belanda member izin kepada Sultan Mandarsyah menempati Benteng ini beserta 160 orang pasukannya (Andi Atjo, 2008;51).
Benteng Oranje
| Benteng Oranje |
Keberadaan
benteng Oranje di tepat di Pusat Kota Ternate. Dibangun oleh Kornelis Matelief
de Jonge. Awalnya, benteng ini disebut Benteng Melayu.
Sofyan
Daud dalam buku Ternate Mozaik Kota Pusaka mengutip; Arnyta Djafaar (2007:
127-131) menulis, Fort Oranje ini semula
berasal dari bekas sebuah benteng tua yang didirikan oleh orang-orang Melayu
yang bermukim di sekitarnya dan diberi nama Benteng Melayu. Beberapa sumber
menyebutkan kawasan ini dipilih selain karena letaknya stategis juga karena
lebih mudah berhubungan dengan Halmahera, tempat dimana bisa memperloleh suplai
makanan secara cepat dan aman.
Benteng
Oranje saat itu menjadi markas besar VOC Hindia Belanda sebelum Gubernur
Jenderal Jan Pieteszoon Coen memindahkan ke Batavia pada 1619.
Benteng Kalamata
| Benteng Kalamata | sumber foto; liliskhus.niati.com |
Benteng
Kalamata terletak di Kelurahan Kayu Merah, Ternate Selatan. Jaraknya kurang
lebih 3-4 kilometer dari pusat Kota Ternate. Beberapa sumber menyebutkan,
benteng ini dibangun oleh Pelanda pada tahun 1609 setelah itu, benteng diduduki
oleh Spayol.
Sofyan
Daud (2012:55) menulis, Nama Kalumata atau Kalamata, diambil dari nama seorang
Pangeran Ternate yang wafat di Makassar pada Maret 1676.
Klenteng
Kong Hu Cu
![]() |
| Klenteng Kong Hu Cu |
Klenteng Kong Hu Cu berdiri kokoh
tepat di lingkungan kompleks sekolah China. Maasyrakat lokal menyebut
Klentengnya Tapikong. Asal-muasal penyebutan Tapikong dari bahasa China yakni
Toa Pe Kong yang artinya istana besar.
Keberadaan
Klenteng pun memiliki sejarah panjang. Pada abad ke-17. Pada masa itu, klenteng
ini bernama Thian Ho Kiong yang
artinya permaisuri dari Tuhan yang Agung. Dibangun untuk menghormati Dewa Laut.
Kini,
konstruk bangunan Kelnteng ini memiliki dua lantai. Di lantai atas sebagai
ruang untuk menghormati Dewi Kwan Ing. Untuk
menghormati Nabi Kong Hu Cu berada di ruang belakang, ruang untuk menghomati
Dewa Bumi di sisi selatan, ruang
menghormati dewa laut, di ruang tengah, dan ruang untuk menghormati panglima
perang Kuan Kong berada di sisi utara.
Penulis : Faris Bobero




Top...sudara aroma kopinya cukup nikmat..
ReplyDeletesyukur dofu, sudara. aromah rempah juga membawa petaka. lahirnya kolonialisme di tahap modern yang paling awal
DeleteAroma rempah juga yang melahirkan pejuang tangguh.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteBetul skali om Jojo. Syukur dofu
ReplyDelete