Dulu Bernama ‘Marimbati Pante’
![]() |
| Mangrove sepanjang Sungai di Desa Lako Akediri |
DULU
tempat ini dikenal dengan Pantai Marimbati. Dalam bahasa lokal disebut ‘Marimbati
Pante’. Namun, banyak yang belum mengetahui, bahwa daerah ini
merupakan sebuah desa yang secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan
Sahu.
Orang-orang dari Sahu
banyak bertutur tentang desa ini. Salah satu warga di sana mengatakan pada
saya, “Ini bukan Desa Marimbati, ini desa Lako Akediri. Desa ini juga memiliki
sejarah.”
Sepanjang pantai, banyak tumbuh pohon kelapa dan sejumlah jenis pohon mangrove. Pantainya masih
sangat asri. Banyak wisatawan yang belum mengetahui, bahwa lokasi ini juga
masuk sebagai daerah destinasi wisata di Kabupaten Halmahera Barat.
| Penulis saat menyebrangi Jembatan di Sungai Lako Akediri, Jailolo |
Beberapa rumah adat berdiri
kokoh di sana. Namun, sayangnya beberapa di antaranya sudah tampak tak terurus.
Bangunan sejarahnya mulai menyusut diikuti cerita-cerita tentangnya yang juga
mulai menyusut. Ongen, salah satu pemuda Lako Akediri yang berprofesi sebagai
nelayan menceritakan kepada saya dengan nada kesal.
“Torang di sini
sebenarnya masuk wilayah adat. Tapi, sayangnya kurang mendapat perhatian. Malah
pemerintah kurang peduli dengan hal-hal sejarah di sini,” katanya.
Saya sempat memastikan
hal ini pada sejumlah tokoh adat. Mereka membenarkan, bahwa sebenarnya wilayah
Marimbati dan Desa Lako Akediri memiliki kaitan sejarah yang sangat erat dengan
kesultanan Jailolo.
| Hulu Sungai Lako Akediri di Desa Gamtala, Jailolo |
Desa Lako Akediri
sangat berpotensi dikenal luas oleh para wisatawan. Selain pantainya, lokasi
ini juga terdapat sebuah sungai. Hulu sungai ini terdapat di Desa Gamtala,
salah satu desa yang juga sudah ditetapkan sebagai destinasi wisata. Meski
begitu, arus sungainya tidak terlalu deras. Sepanjang sungainya tumbuh pepohonan
mangrove.
Saya juga menyaksikan
langsung, warga di sana banyak yang memanfaatkan lokasi tersebut sebagai
kebutuhan ekonomi. Mereka mengaku sering mencari ikan, udang dan bia (kerang). Hasil tangkapan tersebut
hanya dipakai untuk makan sehari-hari, tidak untuk dijual.
| Tepian Sungai Lako Akediri. Masyarakat sering menangkap udang di sini |
Penulis: Rajif Duchlun

Leave a Comment