Dusun Raja yang Hilang
![]() |
| Saat berkunjung ke Bivak milik Tanganiki di Kampung Dodaga, Halmahera Timur (foto: faris bobero) |
Dusun
Raja atau Raki Ma’amoko adalah sebuah kebun besar dengan sumber makanan yang
banyak yang dimanfaatkan oleh komunitas O’Hongana Manyawa Dodaga. Meskipun
kepemilikan lahan kebun milik satu marga namun peruntukan hasil panen untuk
semua orang.
Pada
Maret 2015, Saya bersama Andri Ummamith berkunjung ke Bivak, Opa Tanganiki
bersama Istrinya. Malam itu di Kebun lansa yang tidak jauh dari daerah
transmigrasi. Daerah Trans dulunya hutan lebat, hanya di Dusun Raja Lansa dan
Dusun Raja Sagu yang tidak berhutan sebab di situ adalah sumber kebun makanan
yang dirawat untuk komunitas mereka. Semua orang bisa datang memanen buah lansa
dan sagu untuk pemenuhan kebutuhan di rumah. Bahkan, secara gotong-royong
menjaga kebersihan Dusun Raja tersebut.
“Orang
dari Maba, Buli bisa datang di Dusun Raja untuk ambel Sagu dan lansa,” kata Opa
Tanganiki.
Pemilik
Dusun Raja Lansa adalah kakek dari Almarhum Lopa-lopa, saat penggusuran untuk
membangun SP 4, pihak perusahan yang mengerjakan proyek tersebut tidak
berkordinasi dengan pemilik dusun.
“Yang
kerja bikin SP itu dari perusahan dong pe nama perusahan PT Sandara. Lopa-Lopa
datang marah-marah, bawa panah dan parang, merontak karena Dusun Raja digusur.
Tapi saat itu juga pihak perusahan kasih ganti rugi pake doi jadi suda tidak
masalah,” Kata Opa Kasiang, yang saat itu juga berada di bivak bersebelanan
dengan bivak Opa Tanganiki.
Sebagian
warga komunitas tidak melakukan penolakan karena lahan tersebut adalah hak
milik keluarga Almarhum Lopa-Lopa. Yang kini tersisa hanyalah Dusun Raja dengan
sumber makanan Sagu yang juga berdekatan dengan lokasi SP 4 dekat jembatan, di
samping jalan. Beberapa komunitas mendiami Dusun Raja Sagu tersebut sebagai
sumber makanan.
“Dulu,
saya punya kebun juga ada di SP 4, luas 2 hektar, saya tanam ubi, petatas,
pisang, dan sayur-sayur. Waktu itu orang PT Sandra datang gusur, saya minta
ganti rugi Rp.150.000 tapi orang PT Sandra tramau, jadi dong kasih Rp.25.000
dengan beras 50kg saja. Saya tidak melawan karena saya tidak sekolah tinggi to,
tidak tahu hukum,” Kisahnya.
Dengan
masuknya transmigrasi, pola konsumtif Om Kasiang pun beragam, yang dulunya
makan sagu, ubi, petatas, dan padi ladang, kini lebih bergantung dengan padi
sawa. Selain itu, untuk kebutuhan minum, cenderung membeli air gelon dengan
harga Rp,700 karna sungai sudah tercemar dengan limbah produksi daging sapi dan
pupuk tanaman yang dicuci di sungai.
Namun,
masih ada hal lama yang dilakukan oleh orang Jawa di transmigrasi dengan
komunitas O’Hongana manyawa yakni sistem barter. “Saya pe maitua itu sering ke
Trans bawa pisang, ubi, petatas untuk tukar dengan beras. Sampai sekarang masih
dilakukan”.
Sebelumnya
Opa kasiang tinggal berpindah-pindah di hutan Dodaga, pada tahun 1959 ada guru
dari buli datang di Dodaga, Om kasiang dan beberapa teman sempat belajar selama
tiga tahun. Saat itu, mata pelajaran berhitung, ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu
bumi, dan menggambar.
“Berhitung
itu ada namanya remis, 1 remis=5 sen. Ketip misalnya 1 ketip= 10 sen, dan
pelajaran kelip. 1 kelip=5sen, pelajaran kelip sama dengan pelajaran remis
yakni 1 kelip atau 1 remis = 5sen”.
Pada
tahun 1963, masuk bantuan sosial melalui Kementerian Sosial terkait dengan
program Resettlement dengan menggunakan istilah “rumah kumuh” dan perumahan
bagi “tuna budaya” (Isitilah ini dipakai oleh pemerintah untuk menyebut
O’Hongana Manyawa yang masih hidup di hutan) sekaligus membuat desa Dodaga.
Saat itu berkisar 40 Kepala Keluarga (KK) komunitas O’Hongana manyawa termasuk
Opa Kasiang dikeluarkan dari hutan untuk menempati rumah kumuh yang disediakan.
Namun, masih ada 30 KK yang memilih tidak keluar. Saat itu juga sekolah mulai
mengunakan seragam.
Pada
tahun 1957, kembali lagi program perumahan diadakan di Rai Tukur-Tukur, Opa
Kasiang juga termasuk yang mendapatkan bantuan rumah tersebut di Rai
Tukur-tukur yang menjadi anak dusun dari desa Dodaga (Faris Bobero)

Leave a Comment